Dalam sebuah pesta yang akrab menjeratmu jatuh cinta kepada tempat yang sama
Tempat malam dengan rembulan robek setengahnya bersolek
Berlomba denga gincu menari-nari di cermin parfumnya nyinyir
Masih merana rupanya
Musik box berkelening hening di kening simponi patah hati nginap di jendela Sang balerina lilin kecil terpencil (kau lihatlah ujung jempol kaki mungil pantang lelah)
Lalu apa yang hanya dibilang oleh puisi:
barangkali ini bukan cinta;
barangkali memang setengahnya di hatimu setengahnya lagi di atas sana
*Obn (sby, sebuah awal 2006)
| |
|