Aku sesat di gang-gang mampat rumah gagu dari waktu ke waktu
Sampai aku temukan di sebuah laci kamar biji-biji kenangan helai demi helai bisu runtuh
Kepada pundak puisi aku menepuk:
"Kenapa masih saja mencari rembulan sudah sobek setengahnya mungkin menguar di ujung embun mungkin kesasar tak tahu ujung"
senyum tak berbalas mengulum duka yang datang kepagian
angin itu nyanyi ratapan: sesat di gang-gang mampat rumah gagu dari waktu ke waktu
Sby, 2007 (kenangan yang terus meminta eksistensinya)
| |
|