My darkest kind of blue moon

Blog EntryDari sebuah mimpi:Aug 25, '08 8:08 AM
for everyone
sama seperti malam-malam sebelumnya
         siut suit udara
mencicil  s-e-p-i  demi  s-e-p-i
dan
embun koyak

seperti segala jenis cinta di dunia,
cinta itu embun tertiup angin
rapuh, mudah tercampur udara
ringkih, mudah tumpah ke tanah

ringkih seperti butiran luruh
           di sepertiga akhir malam bisu menjelang subuh,
                       berapa sih usia cinta?

coba tanyakan kepada dinihari yang lirih menghadap kiblat
mengibarkan dzikirnya yang tekun

mintalah dia meniupkan dirimu yang aku bangun
dirimu yang memaksa aku bangun
dirimu,
yang dari senyummu  ranum
aku ingin menjadi merahnya
                                       dan
                                        menjadikan cinta kepadamu
                                                           bening

bening yang bukan nero (neko-neko keroyok)
betapa norak
ini hening yang biasa saja
                                  
                                   bening yang sederhana saja

bening yang matang
                   datang seperti kepergian,
                                           kepergian yang datang
hanya saja, seringkali tak kau tangkap basah di ekor malam

bening diam-diam menusuk benci dengan nyanyi bisu tuli
karena aku senantiasa menyelinap di pintu pagimu
bergegas beranjak tanpa jejak sebelum kau sadar
                        aku seringkali membasahi jendelamu dengan embun doa malam
                        aku seringkali ingin meninggalkan pesan
                        aku seringkali berpura-pura sanggup menjenguk hatimu

kau yang diam,
              aku yang bisu,
                       aku yang sengaja bisutuli untukmu
tinggal mata ini saja tak berani kukorbankan untukmu
aku tak mau buta,
aku menunggu,
sengaja bisutuli untukmu

sebelum huruf-huruf menjadi terlalu coklat
atau matang terlalu
aku disinggahi mimpi:
mataku tertusuk dirimu
dirimu yang menunggang macan
dirimu yang dikejar-kejar rembulan
dirimu yang pucat ketakutan
dirimu yang nafasnya tersengal-sengal
                  terdengar seperti nafasku sendiri
                           nafas yang pasrah dalam kepung bintang

getir,
rindu tak sabar, rindu tak mau mikir-mikir
memaksa mengirim angin
angin yang mendoakan dirimu
angin biasa saja
angin sederhana saja
angin yang ingin memerangkap waktu
                                              ke dalam pesta bisu yang akrab

akrab,
seperti obrolan kopi pagi ditemani malaikat pembawa berita
                                        koran yang dibawanya berisi bacaan skema takdir
jangan mimpi bisa membaca takdir
yang kutahu malaikat selalu berseru dalam bahasa sorga
sedang aku punya
bahasa rindu biasa saja

tentu malaikat-malaikat buru-buru menyeruput kopi paginya
mengejar dhuha sebelum bertukar shift
tapi aku,
      aku menyeruput kenangan

kenangan tak mau uzur
kenangan tak mau mundur
                            mengakrabi butiran waktu lalu yang masir
dituntun bel-bel kecil berklenengan
diapit sesaji-sesaji warna fajar menyisir tepi langit
sebelahnya fajar
                sebelahnya wajahmu samar, wajahmu damar
wajah yang membonceng di buritan fery ketapang-gianyar
wajah yang berbagi asap rokok dan bubur pagi
                                                    menekuni punggung dewa yang terpekur

saat itu mataku hanya terjebak saja
                                            dalam
                                            jaring-jaring ombak yang akur dengan angin
menebar biji-biji yang membentuk senyum paling dirimu
senyum yang kutemui
                    di lembar-lembar gelombang selat merah jingga bercampur maroon

seperti bisingnya sayap-sayap di gua kenangan
seperti angin anggur yang membelah di selat itu
sudahkan angin yang kusampaikan di tiga dini hari menjumpai hatimu;
angin yang menjinjing mimpi sebagai tanda baik?

sudahkah?

aku bertanya biasa saja
dengan rindu yang sederhana saja


*Sby, pada sepertiga pagi setelah mengSMS orang yang kusayangi


Blog EntryApple (2)Aug 22, '08 7:14 AM
for everyone

Lalu ketika batu demi batu
terlewati
dan kerikil

Atau daun runtuh yang ketinggalan kereta senja

Pucuk hijau mulanya bersemedi
dalam kicau ranting separuh patah
mulai gelisah

Tiket terjual habis sebelum adzan menggelar sajadah senja
tapi daun-daun rontok itu sudah terlalu maghrib
kau lihat saja di merahnya yang maroon itu

Aku akan senantiasa bermunajat untuk sebutir senyummu
dari lesung yang tak pernah surut

Menangkap matamu yang ingin menjaring mataku
di danau situ kau ingin menghabiskan waktu
danau yang kuberi nama Sarang
tempat speedboat dan ombak dangkal

Ketika matamu-mataku menemukan garis takdirnya
diameternya hanyalah gagu
memaksa lesungmu yang ledoknya tak seberapa lebar
menyiut, memanjang, sweet-sweet martabax

Kau hanya tersenyum kecil seperti memastikan:
"Benar khan matanya sedang bermain di pipiku!"

Tentu saja mataku mencari matamu sedari pertama;
Kau lucu sih;
Kau beri pandangan yang menjebak sih:
"Ini dia laki-laki berbini yang sedang cari pacar lagi"

Kurang ajar, awas kau!

Mataku tersenyum melihatmu tersenyum
kubiarkan
senyum sok tahumu, itu ironi buah apel

Sudahlah,
Newton juga akan terlelap tanpa gravitasi
mengambang di alis tebalmu yang lurus
Bila saja buah apel tak mengunjungi mimpinya
akan kuminta bergabung
melambung antara
bumi, dirimu
dan
pucat yang memulas di merah savanamu

Danau untukmu juga memang sebuah ironi;
seperti tiap laut punya surut
atau
malam yang harus rubuh oleh pagi
Sebuah fiksi harus segera dilupakan
bersama credit title yang pulang ke rumah
dengan nada paling lirih
Kau telah lamat-lamat bersama siut senja kereta

Masih terlalu manis sebenarnya
dengan ujung alismu semakin membungkuk ke bumi
dengan apel di kedua pipimu
lagipula
belum kuhitung berapa kenangan yang harus dibayar

Aku sendiri masih di situ itu
memutar gelas
pinggirannya bekas gincumu tengah berbisik akrab:
Gravitasi, menjebakmu menjejak tanah
Gravitasi, hati hati menyimpan desir
Gravitasi, melipat sejarah di atas pasir
Gravitasi, ironi buah apel yang mestinya tetap mengambang


*Obn








Blog EntryAppleAug 20, '08 12:04 AM
for everyone

Mataku menangkapmu sebagai apel
ada pucat yang memulas
di merahnya

Ingin aku bermain di alismu
rimbun, lurus
ujungnya itu bungkuk ke bumi

Manis rasanya berayun-ayun di ujung alismu
mrusut ke savana
tepat di bawah purnama
Rumputnya teki
tak seberapa tinggi

Aku,
ingin bermalam
di situ, pulas
di kiri-kanan ledok savanamu
sampai puas
melampaui hutan mangrove
basah
pantai selalu saja resah

Ledok yang acap melebar
Itu senyummu, lucu yang mekar

Aku mengawasimu dengan malam yang gerhana

Anggaplah ini rayuan,
metafora tak rumit;
kata tak gesit;
kabut yang singit.

Aku tak urus itu,
berbelit-belit
mengintip sekedarnya
seadanya
menyiksa tumit

Demi waktuku yang pelan-pelan beranjak sangit
asal kau tahu saja: rindu ini sangat sengit!

*Sby, malam itu rindu







Blog EntryDalam Doa: IIAug 8, '08 8:32 AM
for everyone
Dalam Doa: II

saat tiada pun tiada
aku berjalan
(tiada gerakan, serasa isyarat)
Kita pun bertemu

sepasang Tiada
tersuling (tiada gerakan, serasa nikmat)
: Sepi meninggi.

(Sapardi Djoko Damono)


Blog Entrysajak kecil tentang cintaAug 8, '08 8:28 AM
for everyone
sajak kecil tentang cinta

mencintai angin harus menjadi siut

mencintai air harus menjadi ricik

mencintai gunung harus menjadi terjal

mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu(mu) harus menjadi aku

(Sapardi Djoko Damono)

Blog EntryTiba-Tiba Malam pun risikAug 8, '08 8:25 AM
for everyone
Tiba-Tiba Malam pun risik

tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka

(Sapardi Djoko Damono)

Blog EntryHujan Bulan JuniAug 8, '08 8:24 AM
for everyone
Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)




Blog EntryAku InginAug 8, '08 8:23 AM
for everyone
Aku Ingin
(Sapardi Djoko Damono)


aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



Blog EntrySetengah Rembulan (9)Jul 18, '08 5:10 AM
for everyone

menatapmu

hanya ingin merintih

 
*Obn
(Sby, 2006)


Blog EntrySetengah Rembulan (8)Jul 18, '08 4:29 AM
for everyone

Dalam sebuah pesta yang akrab
menjeratmu jatuh cinta kepada tempat yang sama

Tempat malam dengan rembulan robek
setengahnya bersolek

Berlomba denga gincu menari-nari di cermin
parfumnya nyinyir

Masih merana rupanya

Musik box berkelening
hening di kening
simponi patah hati
nginap di jendela
Sang balerina
lilin
kecil
terpencil
(kau lihatlah ujung jempol kaki mungil pantang lelah)

Lalu apa yang hanya dibilang oleh puisi:

barangkali ini bukan cinta;

barangkali memang
setengahnya di hatimu setengahnya lagi di atas sana

*Obn
(sby, sebuah awal 2006)









Blog EntrySetengah Rembulan (7)Jul 17, '08 7:35 AM
for everyone

Aku
sesat di gang-gang
mampat
rumah gagu dari waktu ke waktu

Sampai aku temukan
di sebuah laci kamar
biji-biji kenangan
helai demi helai
bisu
runtuh

Kepada pundak puisi
aku menepuk:

"Kenapa masih saja mencari
rembulan sudah sobek setengahnya
mungkin menguar di ujung embun
mungkin kesasar tak tahu ujung"

senyum tak berbalas
mengulum
duka yang datang kepagian

angin itu nyanyi ratapan:
sesat di gang-gang
mampat
rumah gagu dari waktu ke waktu

Sby, 2007
(kenangan yang terus meminta eksistensinya)








Blog EntrySetengah Rembulan (6)Jul 17, '08 7:00 AM
for everyone

Sepotong luka
mimpi yang
tak mau
rebah


*Sby, 2006
(jauh, dalam kenangan)

Blog EntrySetengah Rembulan (5)Jul 16, '08 6:11 AM
for everyone

Setengah rembulan
mulut yang rapat
mengecup malam-malam
pepat
mengecup dupa tak kunjung usai, masai
mengecup butir air keramat sunyi sayat-sayat

Jangan kau sebut itu sebuah tangis
Hanya saja mata teriris
dari cinta menekuk mukanya

Rindu masih sibuk kenduri tak ingin pergi

Bibirmu serupa kepompong
tak sekali
ompong dari gigir kenangan
Menjelma kupu-kupu tak jadi

Menciumku di bibir
tak pernah
kecuali
aromanya tega

Ini aku di sepanjang tidurmu:

"Did I ask too much, more than a lot?"


*Sby, 2007

(masih, dari laci kenangan)

Blog Entrysetengah rembulan (4)Jul 14, '08 5:50 AM
for everyone

Aku mabuk setengah rembulan

menepi untuk wajah-wajah yang bermain di cermin


Yang berlagak penyair itu aku

Yang penyair sombong itu aku

Yang hanya mampu menulis tentangmu


*Sby, 2007
(dari laci kenangan)



Blog Entrysetengah rembulan (3)Jul 14, '08 2:55 AM
for everyone

aku termangu nggugu
pada separuh malam
ekornya
sudah meliuk-liuk
kepada kenangan

aku nggigir
pada separuh kenangan
yang menagih rekening

sampai di mana
kau simpan malam-malam
jauh

sunyi yang tertatih-tatih
dan menempel sedemikian rupa
kepada
setengah rembulan

huruf-huruf yang berbaris seperti semut bersalaman, itu rindu yang aku simpan untukmu dan untuk malam yang tak pernah mengenyangkan, untuk sobekan tangis, untuk sebait kopi pahit, untuk segulung beban, untuk sehirup matahari, untuk hari-hari dalam seminggu yang bergulung tak kunjung usai seperti gores-gores janjimu cuaca yang tak mau reda, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, senin, selasa, rabu, kamis, jumat yang terlewat, sabtu, minggu,...,...


* Sby, 2007






Blog EntrySetengah Rembulan (2)Jul 8, '08 6:42 AM
for everyone

Katamu, cinta itu tiada rumus

Oi, cinta buta

Adakah aku meminta lebih?


*Sby, 2007

Blog EntrySetengah Rembulan Jul 7, '08 9:12 AM
for everyone

setengah rembulan menjelang sabit
ku cari dirimu di sela biji-biji langit malam
kosong kuperam

entah kemana kau dibawa malam
entah berapa lama

diperangkap pesona
atau
terjatuh ke dalam cinta?

tampah tandas tanpa biji
lembar-selembar kenangan
atau
segaris luka tumpah seringkali berbunyi sunyi-sunyi:
patah hati gak enak, patah hati itu gak uenak tenan!

aku menyelinap ke jendelamu terkunci
lilin untukmu ikut patah hati

aku menyusup ke dalam ruangmu degup
ujung lidah ini sunyi yang terus mengisut

aku mengintip
sedih aku punya mengiris

aku mangu di tepi kolam-kolam seribu danau
mencarimu dalam tarian gelombang
aku menunggu
dan
kau tetap tak datang

*depok 2007





Blog Entryuntukmu (5)Jul 4, '08 2:20 AM
for everyone
Yang menusuk jantungku
sebilah rindu

Ujung tajamnya
kesunyian yang konstan


*obn

Blog EntryUntukmu (4)Jun 27, '08 4:48 AM
for everyone

Kali ini tak ada puisi
hanya hatiku dikurung sepi
Yang ingin kulipat

Dan sekali waktu kugantung
menghadap diriMu

*Obn



asli dicomot dari: http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/message/40700

Hudan: Iwan verbalisme, Nirwan hampa makna. Mari hidupkan sastra dengan polemik!

Tiap ciptaan yang kuat selalu mentransendir dirinya, sehingga benda dan
peristiwa, diangkat, atau diterobos, kedalam "temali" antara Tuhan, manusia, dan
dunia.

Hidup merentang dalam gerak yang diam atau gerak yang berpusar. Anasir, dan
banyak anasir, selalu harus kita hubungkan satu sama lain. Penghubungan semacam
itu, bisa melalui eksrepsi kebudayaan apapun.

Jembatannya adalah bahasa.

Bahasa adalah aktifitas yang hendak menertibkan dunia. Bagi ilmuwan, dunia akan
tertib ketika hukum alam dikuakkan. Bagi seniman, dunia menjadi berarti saat
makna bisa dihadirkan.

Cerita yang agung tak pernah mengusir Tuhan dari kisahnya.

Ah rasa yang dalam/datang Kau padaku/Aku telah mengecup luka/aku telah membelai
aduhai.

Betapa menggetarkan! Getar dari sebuah bahasa yang mendekatkan keruwetan dunia
ke dalam bahasa yang konkret, ke dalam ucapan-ucapan bahasa yang membuat diri
ini bergoyang-goyang, seolah ritme dari sebuah zikir. Bukan bahasa yang
mengabstrakkan kembali sesuatu yang minta ditautkan ke dalam hal yang konkret -
dunia yang penuh chaos.

Abstraksi dijawab dengan abstraksi, di sinilah mulainya kegagalan seni.

Lihatlah sebuah puisi ini.

Kau benih hujan pagi hari,
aku payung yang lama iri.
Kau air mata di ujung jari,
aku saputangan matahari.

Sekejap kita terpukau, dengan cara penyair memainkan benda-benda di sana, dengan
menautkan benda itu, atau menyatukan, atau menghubungkan, benda-benda itu ke
dalam diri si aku.

Hujan dan payung, aku dan iri, adalah dua kategori metapor yang bersahutan,
metapor yang bergerak dan memindahkan dirinya secara selang-seling ke dalam
payung, ke dalam saputangan.

Kita lihat metapor itu bergerak lagi dan berpindah lagi. Dari saputangan ke
matahari. Kita lihat fungsi metapor di situ, sebagai menahan (payung yang
menahan hujan), sebagai menghapus (sapu tangan menghapus airmata).

Kita pun melihat upaya penyair merentangkannya - metapor itu, atau benda dalam
hubungan dengan peristiwa di sana, diangkatnya, atau digesernya, kepada matahari
- lambang kehidupan.

Tetapi apa kesudahannya?

Gerak benda di sana tak bisa naik. Hanya menjadi keunikan. Semata keunikan. Tak
bisa naik karena kekurangan umpan - karena penyair telah mengusir Tuhan dalam
puisinya, atau mengabstrakannya sehingga terasa samar-samar - sesuatu yang
menjadikan gerak dan benda-benda menjadi bermakna, saat kita "menalikan"nya,
meskipun hanya melalui puisi - jantung kata yang diangankan seolah cangkang
telur itu - yang ingin menetaskan kata menjangkau atau menerobos kenyataan,
untuk sampai ke balik kenyataan yang
lebih tinggi.

Tapi sang puisi tersungkur kepada dirinya sendiri.

Cara kerja seperti itu, bisa kita operasikan saat menyimak dua bagian dari
"Mawar Terjauh" - puisi Nirwan. Sebelum kita masuk ke dalam bagian penutup dari
puisi yang hendak menjangkau alam melalui benda alam ini.

Kohesi, dalam pergerakan, sampailah sudah ke alam kemandulan makna dari puisi.

Makna tak hadir melalui bahasa yang indah dari sudut komposisi kata, dari
pergerakan kalimat yang menimbulkan bunyi. (Atau dalam bahasa bola: taklah ada
gunanya seluruh pergerakan pemain kalau akhirnya pihak lawan yang mencetak gol!)

Kau pemilik hujan sepenuh hari,
aku payung terlampau sembunyi.
Mari, lekaslah kelabui Januari,
sebab aku terkulai ke tepi nyanyi.

Inilah puisi letoy dari makna yang letoy. Betapa sang penyair gagah hendak
mengusap dunia (aku saputangan matahari), tapi tenaga kata-katanya kosong.
Ibarat bulir padi tak berpenghuni, tak bisa menumbuhkan kehidupan di atasnya.

Sebab siapakah "kau" di sana? Kau "Tuhan, tuhan", kau "mawar" yang kita kenal
sejak kecil, sebagai bunga yang harum, kau "hujan" yang berganti-ganti dimainkan
oleh penyair dengan benda-benda alam lainnya (cermin, gaun merah, tubuh).

Siapakah "kau" di sana?

Itulah yang saya maksudkan: dunia yang sudah abstrak diabstrakkan pula oleh sang
penyair.

Seni yang agung mengkonkretkan dirinya sendiri. Ke dalam kisahnya yang menautkan
riuk-riuk dunia, ke dalam bahasa yang sederhana tapi dalam dan penuh makna.

Saya kutipkan penuh dua puisi yang menjadi pembahasan saya ini.

Ah

rasa yang dalam!
datang Kau padaku!
aku telah mengecup luka
aku telah membelai aduhai!
aku telah tiarap harap
aku telah mencium aum!
aku telah dipukau au!
aku telah meraba celah lobang pintu
aku telah tinggalkan puri purapuraMu
rasa yang dalam

rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala nyata sebab dari
segala abad sungsai dari segala sampai duri dari segala rindu luka dari segala
laku igau dari segala risau kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh
dari segala guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari segala Anu
puteri pesonaku!

apa yang sebab? jawab. apa yang senyap? saat. apa yang renyai? sangsai! apa yang
lengking? aduhai. apa yang ragu? guru. apa yang bimbang? sayang. apa yang mau?
aku! dari segala duka jadilah aku dari segala tiang jadilah aku dari segala
nyeri jadilah aku dari segala tanya jadilah aku dari segala jawab aku tak tahu

siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit siapa laut yang
paling larut siapa tanah yang paling pijak siapa burung yang paling sayap siapa
ayah yang paling tunggal siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku
kalau tak aku yang paling rindu?

bulan di atas kolam kasihkan ikan bulan di jendela kasikan remaja daging di atas
paha berikan bosan terang di atas siang berikan rabu senin sabtu jumat kamis
selasa minggu kau sendirian berikan aku!

ah
rasa yang dalam
aku telah tinggalkan puri purapuraMu

yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung yang mana nama
selain mana yang mana gairah selain resah yang mana tahu selain waktu yang mana
tanah selain tunggu yang mana tiang selain Hyang mana Kau selain aku?
nah
rasa yang dalam
tinggalkan puri pura-pura-Mu!
kasih! jangan menampik
masuk Kau padaku!

(Sutardji Calzoum Bachri)


Mawar Terjauh

Kau benih hujan pagi hari,
aku payung yang lama iri.
Kau airmata di ujung jari,
aku saputangan matahari.

Jikau kau dalam gaun merah,
aku bekas tangan di perutmu.
Tapi kau juga nenangan darah,
ketika aku urung mencintaimu.

Kau cermin terlalu menunggu,
aku wajah memurnikanmu.
tumpahkanlah tilas semua dara,
sampai jantungmu serimbun bara.

Kau pemilik hujan sepenuh hari,
aku payung terlampau sembunyi.
Mari, lekaslah kelabui Januari,
sebab aku terkulai ke tepi nyanyi.

(Nirwan Dewanto)

***

Puisi bisa muncul dari penyair manapun - makna puisi. Bahkan dari seseorang yang
baru saya jumpai di dunia maya: Sony Debono. Melalui sekumpulan burung (2), sang
penyair dari Surabaya ini memotret sepenggal sore, dari sebuah daerah turis. Di
situ puisi menjadi magis, dari sebuah kepiluan, dari sebuah ironi, dari negeri
yang mengais-ngais dolar. Tapi pedih. Dengarlah ia menyanyikan kepedihannya.

yang biru bukan langit tapi air mata tua
yang biru bukan selat tapi mimpi mampat.

Begitulah sebuah negeri diharu-biru dari kehendak membuka gerbang kotanya, demi
mengais dollar. Tapi diri tergadai.

Sang penyair memotretkan arus itu sebagai kepincangan.

angin,
ini angin yang pincang
angin kibas-kibas di rantau yang cemas.

Sekali lagi kita diperlihatkan, betapa upaya menguakkan makna dunia melalui
kata-kata, tak harus, atau bisa ditempuh, dengan memakai kata-kata yang
sederhana, dari sebuah hidup yang tak sederhana.

Sony Debono, tak bersibuk mengejar kata-kata yang indah tapi hampa makna. Ia
sibuk mencatatkan pengalamannya sendiri.

> Amlapura...Amlapura
> menyapa wajahku sebuah kabar
> dewa-dewa bahkan malu bersendawa
> Taman abai dering beriring
> kotak tinggi seribu tangga
> aku ingin berbaring
>
> ...klining...klining...klining...

Saya kutipkan penuh puisinya - sebuah metapora dari kenyataan hidup yang
abstrak, tapi di tangan penyair ini, menjadi konkret sekali.

> Sekumpulan Burung (2)
> Amlapura :
>
> Pinggul kota lama para dewa seliku gitar espanola.
> Hijau pualam dalam kepung dada-dada Agung-Lempuyang
> hangat tentu saja
> berangin tentu saja
>

> Yang biru bukan langit tapi air mata tua
> Yang biru bukan selat tapi mimpi mampat

> Amlapura...Amlapura
> menyapa wajahku sebuah kabar
> dewa-dewa bahkan malu bersendawa
> Taman abai dering beriring
> kotak tinggi seribu tangga
> aku ingin berbaring
>
> ...klining...klining...klining...
>
> Kau bisik Saga:
> Bugis sang angin,
> Karangasem Raja,
> Seleparang
> kelewang
> berkebat-kebat seru perrang,
> amis dan kibaran darah darah
> Dan, matamu dunia tiga:
> Kubah, Pura, Segiempat Tinggi Eropah
>
> Ujung,
> ini ujung punya cerita:
> lautnya tenang
> dicumbu mendung
> pagar bintang
> dan
> selembar awan kesasar
>
> Angin,
> ini angin yang pincang:
> Angin kibas-kibas di rantau yang cemas
> kunci bukan pertanda tetapi jalan keluar
>
> Ikan bakar
> Ikan bakar
>
> Aku menyusul Gapuramu
> mencium petang
> tiga hawa
> remang-remang
>
> Dupa
> Dupa
> Dupa
>
> Wangi yang terbakar juga
>
> Menunggu bulan mekar
> Menunggu bulan mekar
>
> Pantai tenang
>
> aku tunggu perawan
> aku tunggu perawan
>
> Perawan Amlapura
> pendar panggung dewa-dewa
> Pilar-pilarnya tua
> mengecup selangkangan laut
> deritnya tak bersuara
>
> ssstttt...Hyang sibuk memagut jagat perawan lembut
>
> Sekumpulan burung di situ menunggu:
> Perawan tanggung
> di panggung bulan setengah telanjang
> Ayam-ayam malam bersiap tarung
> mencari selembar;
> Selembar dari negari koyak
>
> ssstttt...Hyang sibuk memungut merahmuda perawan lembut:
>
> " Ini hanya aku, wahai sang Hyang!
> Tolong hamili aku di Taman Ujung,
> Taman air Karangasem mendung "

(Sony Debono)

***

Pages:1234567
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help